semester baru,
target ipk cumlaude,
lol
ini adalah blog kedua saya, dan seperti yang terdahulu, ini hanyalah sekedar corat-coret saja, semoga dapat lebih berarti setelah saya memulai praktikum lagi, LOL
Tuesday, February 15, 2011
Enterobacter sakazakii
Pendahuluan
Enterobacter sakazakii adalah bakteri gram negatif fakultatif anaerob, berbentuk batang, dan tidak membentuk spora, dengan pigmen kuning dan memiliki kapsul sebagai bentuk pertahanan diri. Koloninya dapat berlendir maupun kering. Klasifikasi taksonomi sebagai berikut:
Kerajaan: Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Bangsa : Enterobacteriales
Suku : Enterobacteriaceae
Genus : Enterobacter
Spesies : Enterobacter sakazakii
Ciri penting dari bakteri gram negatif fakultatif anaerob adalah heterotrof, hemoorganotrofik,tetapi beberapa tumbuh secara ototrofik dengan menggunakan H2 sebagai elektron donor, tidakbergerak dengan cara meluncur, tidak bereproduksi denga tunas, dapat tumbuh pada tunas, dapat tumbuh diudara dan dapat tumbuh secara anaerob dengan fermentasi, dapat hidup bebas atau bersimbiosis dengan inang, binatang, manusia, maupun tanaman. Beberapa diantaranya bersifat patogenik atau menimbulkan penyakit seperti E. sakazakii, hal ini berawal dari tidak ditemukannya bakteri E. sakazakii ini pada organisme sehat sehingga diduga merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit (Lud, 2005: 26-27).
Penyebaran
Enterobacter sakazakii bukan merupakan mikroorganisme normal yang berada di dalam saluran pencernaan manusia. Sehingga kemungkinan sumber infeksi E. sakazakii ini berasal dari tanah, air, sayuran lalat dan tikus. Dalam lingkungan industri makanan, bakteri ini dapat ditemukan si lokasi pabrik susu, kentang, pasta dan sereal. Lingkungan yang mengandung banyak air dan tanah yang lembab juga bisa menjadi penyebab penyebaran E. sakazakii ini. Beberapa makanan yang berpotensi untuk tercemar bakteri ini antara lain sosis, keju, sayuran, susu bubuk dan daging cincang awetan.
Di dalam tubuh, setelah tertelan, masuk dalam saluran pencernaan, bertahan dari keasaman lambung dan sampai di usus. Di usus hidup dan berkembang biak, setelah dewasa menginfeksi dinding usus Sehingga dapat masuk ke dalam aliran darah. Akibatnya, E. sakazakii dengan racunnya (enterotoxin) sampai di kepala dan menginfeksi jaringan otak. Enterotoxin memiliki 2 sub unit A dan B. Sub unit B melekat pada sel epitel bersilia dari usus halus sehingga memungkinkan masuknya subunit A. Subunit A mengaktifkan adenilat siklase yang mengakibatkan hipersekresi air dan klorida serta penghambatan reabsorbsi sodium sehingga terjadi ketidakseimbangan elektrolit. Lapisan usus menjadi menggembung penuh cairan sehingga timbul hipermotilitas (gerak peristaltik berlebihan) dan diare.
E. sakazakii pada lingkungan biasa tidak patogen. Namun yang perlu dipelajari adalah mengapa jika E. sakazakii sudah berada di dalam susu formula, E. sakazakii mampu menjadi patogen. Sifatnya oportunistik. Dalam keadaan optimal, E. sakazakii bisa tumbuh mencapai fase eksponensial, membelah jadi banyak sekali dari 10 sampai jutaan. Kemudian E. sakazakii menghasilkan faktor virulen enterotoxin, sehingga dapat melakukan adhesi (menempel) ke sel epitel, dapat memasuki dan menembus pembuluh darah, kemudian menyebabkan peradangan. Hasilnya, dapat menyebabkan enteritis, sepsis, dan meningitis. Tapi enterotoxin tidak dihasilkan di dalam susu formula. Jika sudah diminum, dan terjadi adhesi, E. Sakazakii mulai bereproduksi, dan akan sangat berbahaya jika sampai tertelan dan bereproduksi dalam tubuh manusia dan menginfeksi tubuh. Langkah yang paling penting dalam menghambat kontaminasi ini dengan membuat susu dengan air bersuhu 70 °C sehingga jika di dalam susu terdapat E. Sakazakii, dapat mati.
Penularan
1. melalui material untuk memproduksi susu formula.
2. melalui kontaminasi udara bebas setelah pasteurisasi.
3. melalui kontaminasi ketika penyajian atau pembuatan sebelum dikonsumsi.
Gejala yang Ditimbulkan
Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau resiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80 persen pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan.
Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhu 580C dalam pemanasan rehidrasi susu formula.
Pengobatan
Bila terjadi infeksi saluran urine, obatnya trimethoprimsulfametoksasol. Obat itu digunakan dalam bentuk kombinasi karena sifat sinergisnya.
Laporan Kejadian tentang Kontaminasi E. sakazakii
Enterobacter sakazakii pertama kali ditemukan pada 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia, resiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar dilaporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika, dan Kanada.
Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100.000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9,4 per 100.000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (< 1.5 kg) . Sebenarnya temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan karena dalam sebuah penelitian prevalensi kontaminasi di sebuah negara juga didapatkan dari 141 susu bubuk formula didapatkan 20 kultur positif E. sakazakii. Pada 1980 bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisis hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan, dengan hibridasi DNA menunjukkan E. sakazakii 53-54 persen dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus, yaitu Enterobacter dan Citrobacter.
Pada penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomy dengan menggunakan cara lebih canggih, yaitu dengan f-AFLP, automated ribotyping, full-length 16S rRNA gene sequencing and DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternatif dengan temuan genus baru, yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies.
Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogenitas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strain kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan, diketahui efek enterotoxin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demikian banyak susu terkontaminasi, tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut.
Meskipun sangat jarang, infeksi karena bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosephalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing.
Susu Formula Berpotensi Terkontaminasi Enterobacter sakazakii
Dalam proses pembuatan susu formula, setelah di pasteurisasi, dilakukan spray drying dengan mengalirkan udara panas agar susu yang tadinya berbentuk cair menjadi bubuk. Namun saat dilakukan fortifikasi (penambahan nutrisi lainnya) dimasukkan beberapa bahan yang mungkin tidak boleh terkena panas lagi. Jadi, kemungkinan di sinilah resikonya. Belum lagi jika ada pori-pori di alat yang tidak tercuci. Satu hal lagi, begitu terkena kontak dengan permukaan kasar, Enterobacter sakazakii akan membuat semacam biofilm (seperti selimut), sehingga agak sulit untuk dilakukan desinfeksi.
Gambar Enterobacter sakazakii
DAFTAR PUSTAKA
http://lordbroken.wordpress.com/2011/02/13/karakteristik-enterobacter-sakazakii-dan-susu-formula/ tanggal akses 15 Februari 2011, 06.00 WIB
Waluyo, Lud., 2005, Mikrobiologi Umum, UMM Press: Malang, halaman 26-27
Enterobacter sakazakii adalah bakteri gram negatif fakultatif anaerob, berbentuk batang, dan tidak membentuk spora, dengan pigmen kuning dan memiliki kapsul sebagai bentuk pertahanan diri. Koloninya dapat berlendir maupun kering. Klasifikasi taksonomi sebagai berikut:
Kerajaan: Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Bangsa : Enterobacteriales
Suku : Enterobacteriaceae
Genus : Enterobacter
Spesies : Enterobacter sakazakii
Ciri penting dari bakteri gram negatif fakultatif anaerob adalah heterotrof, hemoorganotrofik,tetapi beberapa tumbuh secara ototrofik dengan menggunakan H2 sebagai elektron donor, tidakbergerak dengan cara meluncur, tidak bereproduksi denga tunas, dapat tumbuh pada tunas, dapat tumbuh diudara dan dapat tumbuh secara anaerob dengan fermentasi, dapat hidup bebas atau bersimbiosis dengan inang, binatang, manusia, maupun tanaman. Beberapa diantaranya bersifat patogenik atau menimbulkan penyakit seperti E. sakazakii, hal ini berawal dari tidak ditemukannya bakteri E. sakazakii ini pada organisme sehat sehingga diduga merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit (Lud, 2005: 26-27).
Penyebaran
Enterobacter sakazakii bukan merupakan mikroorganisme normal yang berada di dalam saluran pencernaan manusia. Sehingga kemungkinan sumber infeksi E. sakazakii ini berasal dari tanah, air, sayuran lalat dan tikus. Dalam lingkungan industri makanan, bakteri ini dapat ditemukan si lokasi pabrik susu, kentang, pasta dan sereal. Lingkungan yang mengandung banyak air dan tanah yang lembab juga bisa menjadi penyebab penyebaran E. sakazakii ini. Beberapa makanan yang berpotensi untuk tercemar bakteri ini antara lain sosis, keju, sayuran, susu bubuk dan daging cincang awetan.
Di dalam tubuh, setelah tertelan, masuk dalam saluran pencernaan, bertahan dari keasaman lambung dan sampai di usus. Di usus hidup dan berkembang biak, setelah dewasa menginfeksi dinding usus Sehingga dapat masuk ke dalam aliran darah. Akibatnya, E. sakazakii dengan racunnya (enterotoxin) sampai di kepala dan menginfeksi jaringan otak. Enterotoxin memiliki 2 sub unit A dan B. Sub unit B melekat pada sel epitel bersilia dari usus halus sehingga memungkinkan masuknya subunit A. Subunit A mengaktifkan adenilat siklase yang mengakibatkan hipersekresi air dan klorida serta penghambatan reabsorbsi sodium sehingga terjadi ketidakseimbangan elektrolit. Lapisan usus menjadi menggembung penuh cairan sehingga timbul hipermotilitas (gerak peristaltik berlebihan) dan diare.
E. sakazakii pada lingkungan biasa tidak patogen. Namun yang perlu dipelajari adalah mengapa jika E. sakazakii sudah berada di dalam susu formula, E. sakazakii mampu menjadi patogen. Sifatnya oportunistik. Dalam keadaan optimal, E. sakazakii bisa tumbuh mencapai fase eksponensial, membelah jadi banyak sekali dari 10 sampai jutaan. Kemudian E. sakazakii menghasilkan faktor virulen enterotoxin, sehingga dapat melakukan adhesi (menempel) ke sel epitel, dapat memasuki dan menembus pembuluh darah, kemudian menyebabkan peradangan. Hasilnya, dapat menyebabkan enteritis, sepsis, dan meningitis. Tapi enterotoxin tidak dihasilkan di dalam susu formula. Jika sudah diminum, dan terjadi adhesi, E. Sakazakii mulai bereproduksi, dan akan sangat berbahaya jika sampai tertelan dan bereproduksi dalam tubuh manusia dan menginfeksi tubuh. Langkah yang paling penting dalam menghambat kontaminasi ini dengan membuat susu dengan air bersuhu 70 °C sehingga jika di dalam susu terdapat E. Sakazakii, dapat mati.
Penularan
1. melalui material untuk memproduksi susu formula.
2. melalui kontaminasi udara bebas setelah pasteurisasi.
3. melalui kontaminasi ketika penyajian atau pembuatan sebelum dikonsumsi.
Gejala yang Ditimbulkan
Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau resiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar antara 40-80 persen pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini. Infeksi otak yang disebabkan karena E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan.
Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang. Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko untuk mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhu 580C dalam pemanasan rehidrasi susu formula.
Pengobatan
Bila terjadi infeksi saluran urine, obatnya trimethoprimsulfametoksasol. Obat itu digunakan dalam bentuk kombinasi karena sifat sinergisnya.
Laporan Kejadian tentang Kontaminasi E. sakazakii
Enterobacter sakazakii pertama kali ditemukan pada 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus yang serupa pada beberapa negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia, resiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar dilaporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika, dan Kanada.
Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100.000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9,4 per 100.000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (< 1.5 kg) . Sebenarnya temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan karena dalam sebuah penelitian prevalensi kontaminasi di sebuah negara juga didapatkan dari 141 susu bubuk formula didapatkan 20 kultur positif E. sakazakii. Pada 1980 bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasarkan pada perbedaan analisis hibridasi DNA, reaksi biokimia dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan, dengan hibridasi DNA menunjukkan E. sakazakii 53-54 persen dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus, yaitu Enterobacter dan Citrobacter.
Pada penelitian tahun 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomy dengan menggunakan cara lebih canggih, yaitu dengan f-AFLP, automated ribotyping, full-length 16S rRNA gene sequencing and DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan adalah klasifikasi alternatif dengan temuan genus baru, yaitu Cronobacter yang terdiri dari 5 spesies.
Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogenitas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi oleh beberapa jenis strain kuman. Dengan menggunakan kultur jaringan, diketahui efek enterotoxin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya non-patogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demikian banyak susu terkontaminasi, tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut.
Meskipun sangat jarang, infeksi karena bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosephalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat) , dan necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing.
Susu Formula Berpotensi Terkontaminasi Enterobacter sakazakii
Dalam proses pembuatan susu formula, setelah di pasteurisasi, dilakukan spray drying dengan mengalirkan udara panas agar susu yang tadinya berbentuk cair menjadi bubuk. Namun saat dilakukan fortifikasi (penambahan nutrisi lainnya) dimasukkan beberapa bahan yang mungkin tidak boleh terkena panas lagi. Jadi, kemungkinan di sinilah resikonya. Belum lagi jika ada pori-pori di alat yang tidak tercuci. Satu hal lagi, begitu terkena kontak dengan permukaan kasar, Enterobacter sakazakii akan membuat semacam biofilm (seperti selimut), sehingga agak sulit untuk dilakukan desinfeksi.
Gambar Enterobacter sakazakii
DAFTAR PUSTAKA
http://lordbroken.wordpress.com/2011/02/13/karakteristik-enterobacter-sakazakii-dan-susu-formula/ tanggal akses 15 Februari 2011, 06.00 WIB
Waluyo, Lud., 2005, Mikrobiologi Umum, UMM Press: Malang, halaman 26-27
Labels:
enterobacter,
enterotoksin,
enterotoxin,
sakazakii,
susu formula
Thursday, February 11, 2010
MATERI ENTOMOLOGI FORENSIK
ENTOMOLOGY FORENSIC
Entomology adalah ilmu yang mempelajari tentang serangga (classic insecta)
Serangga merupakan spesies terbanyak di dunia, lebih dari 50% keberadaannya di dunia dengan lebih dari 900.000 spesies serangga sudah terdefinisi.
Peran Serangga:
a. Dalam ekosistem alami
b. Dalam agroekosistem
c. Dalam kesehatan
d. Dalam forensik
A. Dalam ekosistem alami:
Serangga memiliki jumlah spesies beragam lebih besar dari spesies lain dengan kemampuan bertahan hidup (survive) tinggi. Fluktuasi pertumbuhannya sendiri di pengaruhi oleh lingkungan biotik dan abiotik.
Serangga merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm) yang berarti dalam laju metabolismenya dipengaruhi oleh lingkungan, seperti suhu.
Pada serangga spesies yang sama, jika ditempatkan di dua wilayah berbeda dengan suhu yang satu lebih hangat dari pada suhu wilayah lain, ada kemungkinan hal ini juga memberi pengaruh pada life cyclenya.
Hal ini disebabkan laju metabolisme merupakan reaksi enzimatis dimana pada reaksi ini, enzim bekerja pada suatu suhu dan apabila berada pada wilayah hangat maka dapat mendukung enzim dapat bekerja secara optimal.
B. Dalam agroekosistem:
Berbagai spesies serangga memiliki peran tersendiri dalam agroekosistem.
Ditinjau dari kebutuhan manusia terhadap serangga:
1. Sebagai hama
2. Sebagai predator
3. Sebagai vektor
C. Dalam bidang kesehatan:
Dapat berperan sebagai vektor.
Sebagai contoh, vektor Plasmodium sp. Sebagai hospes penyakit malaria adalah salah satu dari spesies nyamuk Anopheles.
D. Dalam bidang forensik:
Entomology forensic digunakan pertama kali pada abad ke-13 dan digunakan serta dikembangkan secara besar-besaran pada abad ke-19.
Dalam bidang forensik, serangga digunakan untuk mengetahui lama waktu kematian suatu mayat. Untuk mengetahuinya, digunakan 2 metode yaitu:
a. Using successional waves of insects
Metode ini adalah melihat lama waktu kematian dengan mengidentifikasi serangga yang ada pada mayat tersebut.
Hal ini dapat dilakukan karena ada jenis serangga yang menyukai mayat yang masih baru, namun ada juga serangga yang menyukai mayat yang sudah membusuk, salah satunya Piophilidae yang datang ke mayat setelah terjadi proses fermentasi. Secara kronologis, jika ada mayat yang mati dan masih baru, serangga yang menyukainya akan langsung menuju mayat tersebut, melakukan reaksi enzimatis pada mayat tersebut (dapat berupa proses fermentasi) dan apabila sudah selesai, maka gelombang serangga yang berikutnya akan datang, dan melakukan reaksi enzimatis pula, begitu seterusnya.
b. Using maggot age and development
Dengan adanya telur, larva, pupa, maupun imago pada mayat tersebut, dapat diketahui berapa lama waktu meninggal pada mayat tersebut, karena pada serangga, tiap perubahan dari satu fase ke fase lain mempunyai waktu-waktu tertentu yang pasti, sehingga dapat mengidentifikasi mayat dengan metode tersebut. Walau tetap terdapat kemungkinan tidak akurat karena adanya berbagai faktor, salah satunya perpindahan yang menyebabkan perbedaan suhu yang berimbas pada metabolisme perkembangbiakan serangga tersebut.
Pembagian serangga yang ditemukan pada entomology forensic:
a. necrophages
b. omnivores
c. parasites and predators
d. incidentals
Poin-poin penting:
1. Serangga yang datang ke mayat adalah serangga betina karena mayat digunakan sebagi tempat untuk telur serangga.
2. Di tiap daerah, serangga yang digunakan sebagai sebagai entomology forensic dapat berbeda spesies, bergantung pada karakternya, ketertarikan pada mayat baru, maupun pada mayat yang sudah membusuk.
3. Serangga pada entomology forensic ini digunakan untuk mengetahui lama waktu kematian si mayat. Untuk mengetahui hal lain seperti bagaimana mayat tersebut mati, jenis luka pada pada mayat itu, tidak dibahas pada kajian ini karena relevansinya kurang.
Pembicara:
Dosen Entomologi Fakultas Biologi UGM,Bapak R.C Hidayat,
Dokter lab forensik RS dr Sardjito, Ibu Yudha
Entomology adalah ilmu yang mempelajari tentang serangga (classic insecta)
Serangga merupakan spesies terbanyak di dunia, lebih dari 50% keberadaannya di dunia dengan lebih dari 900.000 spesies serangga sudah terdefinisi.
Peran Serangga:
a. Dalam ekosistem alami
b. Dalam agroekosistem
c. Dalam kesehatan
d. Dalam forensik
A. Dalam ekosistem alami:
Serangga memiliki jumlah spesies beragam lebih besar dari spesies lain dengan kemampuan bertahan hidup (survive) tinggi. Fluktuasi pertumbuhannya sendiri di pengaruhi oleh lingkungan biotik dan abiotik.
Serangga merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm) yang berarti dalam laju metabolismenya dipengaruhi oleh lingkungan, seperti suhu.
Pada serangga spesies yang sama, jika ditempatkan di dua wilayah berbeda dengan suhu yang satu lebih hangat dari pada suhu wilayah lain, ada kemungkinan hal ini juga memberi pengaruh pada life cyclenya.
Hal ini disebabkan laju metabolisme merupakan reaksi enzimatis dimana pada reaksi ini, enzim bekerja pada suatu suhu dan apabila berada pada wilayah hangat maka dapat mendukung enzim dapat bekerja secara optimal.
B. Dalam agroekosistem:
Berbagai spesies serangga memiliki peran tersendiri dalam agroekosistem.
Ditinjau dari kebutuhan manusia terhadap serangga:
1. Sebagai hama
2. Sebagai predator
3. Sebagai vektor
C. Dalam bidang kesehatan:
Dapat berperan sebagai vektor.
Sebagai contoh, vektor Plasmodium sp. Sebagai hospes penyakit malaria adalah salah satu dari spesies nyamuk Anopheles.
D. Dalam bidang forensik:
Entomology forensic digunakan pertama kali pada abad ke-13 dan digunakan serta dikembangkan secara besar-besaran pada abad ke-19.
Dalam bidang forensik, serangga digunakan untuk mengetahui lama waktu kematian suatu mayat. Untuk mengetahuinya, digunakan 2 metode yaitu:
a. Using successional waves of insects
Metode ini adalah melihat lama waktu kematian dengan mengidentifikasi serangga yang ada pada mayat tersebut.
Hal ini dapat dilakukan karena ada jenis serangga yang menyukai mayat yang masih baru, namun ada juga serangga yang menyukai mayat yang sudah membusuk, salah satunya Piophilidae yang datang ke mayat setelah terjadi proses fermentasi. Secara kronologis, jika ada mayat yang mati dan masih baru, serangga yang menyukainya akan langsung menuju mayat tersebut, melakukan reaksi enzimatis pada mayat tersebut (dapat berupa proses fermentasi) dan apabila sudah selesai, maka gelombang serangga yang berikutnya akan datang, dan melakukan reaksi enzimatis pula, begitu seterusnya.
b. Using maggot age and development
Dengan adanya telur, larva, pupa, maupun imago pada mayat tersebut, dapat diketahui berapa lama waktu meninggal pada mayat tersebut, karena pada serangga, tiap perubahan dari satu fase ke fase lain mempunyai waktu-waktu tertentu yang pasti, sehingga dapat mengidentifikasi mayat dengan metode tersebut. Walau tetap terdapat kemungkinan tidak akurat karena adanya berbagai faktor, salah satunya perpindahan yang menyebabkan perbedaan suhu yang berimbas pada metabolisme perkembangbiakan serangga tersebut.
Pembagian serangga yang ditemukan pada entomology forensic:
a. necrophages
b. omnivores
c. parasites and predators
d. incidentals
Poin-poin penting:
1. Serangga yang datang ke mayat adalah serangga betina karena mayat digunakan sebagi tempat untuk telur serangga.
2. Di tiap daerah, serangga yang digunakan sebagai sebagai entomology forensic dapat berbeda spesies, bergantung pada karakternya, ketertarikan pada mayat baru, maupun pada mayat yang sudah membusuk.
3. Serangga pada entomology forensic ini digunakan untuk mengetahui lama waktu kematian si mayat. Untuk mengetahui hal lain seperti bagaimana mayat tersebut mati, jenis luka pada pada mayat itu, tidak dibahas pada kajian ini karena relevansinya kurang.
Pembicara:
Dosen Entomologi Fakultas Biologi UGM,Bapak R.C Hidayat,
Dokter lab forensik RS dr Sardjito, Ibu Yudha
Labels:
agroekosistem,
ekosistem,
entomologi,
entomology,
forensic,
forensik,
serangga
entomologi forensik
hari ini mendapat pengalaman berharga lewat seminar ENTOMOLOGI FORENSIK di FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA.
Walau agak mengecewakan karena kunjungan ke lab forensik RS Dokter Sardjito dibatalkan namun peserta tetap mendapat pematerian. ^^
Walau agak mengecewakan karena kunjungan ke lab forensik RS Dokter Sardjito dibatalkan namun peserta tetap mendapat pematerian. ^^
Tuesday, February 9, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)